Selasa, 24 Maret 2009

KIAT MENGHIDUPKAN THR SURABAYA

· perlu membuat ‘kampoeng seni’ thr surabaya

· perlu sinergi pengelola dan komunitas-komunitas kesenian se jatim

· pertunjukan seni tradisi (ludruk, srimulat, wayang, ketoprak) secara kontinyu

Mengkondisikan Taman Hiburan Rakyat (THR) Surabaya agar dapat hidup kembali perlu adanya kiat. dan terobosan yang mampu mendobrak kondisi yang ada. Kalau dicermati tata letak dan kondisi saat ini, maka pertama-tama yang perlu dibedah adalah brand image-nya. THR Surabaya yang konon sebagai Taman Hiburan Rakyat di era tahun 1960-an, tentu saja tidak sesuai lagi dengan situasi dan kondisi saat ini, tempat itu sudah tidak cocok lagi menjadi taman hiburan, tetapi akan lebih berhasil bila mengedepankan sebuah aktivitas seni dan budaya. Sedangkan kegiatan seni dan budaya itu sendiri juga mengandung unsur hiburan. Dan sangat kebetulan sekali bahwa Kota Surabaya sebagai kota metropolis belum mempunyai pusat kebudayaan, atau “kampoeng seni”, hal ini sangat penting karena pembangunan rohani, sikap, mental dan prilaku berbudaya melalui kesenian juga merupakan penyeimbang pembangunan pada sektor non-fisik yang patut menjadi catatan penting dalam pembangunan kota ini yang secara fisik sudah cukup berlimpah.

Secara simple, pemikiran terhadap upaya menghidupkan “kampoeng seni” THR Surabaya ini sangat tidak sulit, pertama-tama yang sangat penting adalah adanya komitmen dan keinginan untuk maju bersama antara pihak pengelola, dan komunitas kesenian, sebagai bagian dari kehidupan kota Surabaya. Kedua adalah adanya kegiatan pertunjukan yang bersifat regular, yaitu Ludruk, Wayang, Ketoprak, Srimulat, yang merupakan produk bersejarah yang menjadikan ciri pusat kesenian. Bila kegiatannya diselenggarakan sekali dalam satu minggu, maka dalam satu tahun ada 54 kegiatan pertunjukan seni tradisi yang disubsidi oleh Pemerintah Daerah. Akan lebih hebat apabila berbagai kegiatan kesenian lainnya seperti: sastra/geguritan, seni rupa/lukis, musik/karawitan, juga terfasilitasi meskipun diprogram secara insidentil, tetapi harus jelas capaiannya. Melalui ini semua akan mengkondisikan arek Surabaya untuk dapatnya berkreasi dan berapresiasi seni mengeksplorasi keindahan sebagai salah satu wujud pengalaman batin. Apabila kerangka dasar “kampoeng seni” samacam ini dapat berjalan, maka Kota Surabaya akan menjadi sangat hebat, jika tak boleh dikatakan sebagai ‘dahsyat’.

Sebenarnya potensi kesenimanan di Surabaya ini sangat luar biasa, sayang mereka selama ini tidak terfasilitasi, secara moral maupun finansial. Oleh karena itu apabila Surabaya dapat mewujudkan “kampoeng seni” sebagai salah satu tempat mangkalnya para warga Surabaya untuk berkesenian. Hal ini adalah hal yang patut diperjuangkan, disadari bersama, dan dipahami secara mendalam atas realita kebutuhannya. Untuk penerapan strategi ini memang diperlukan wawasan budaya yang mengacu pada kepentingan pembangunan masyarakat berbudaya yang lebih ke depan. Prospek apa yang bisa diberikan kepada

masyarakat ditengah-tengah pembangunan ekonomi yang terus menukik ini, tidak lain adalah sebuah harapan, cita-cita di sektor seni dan budaya yang mampu membuka peluang bagi masyarakat untuk dapat menikmati pembangunan keindahan.

Sejak Januari 2008, kerjasama dengan berbagai komunitas telah dijalin dan beberapa komunitas di antaranya telah mewujudkan action-nya, antara lain : komunitas musik indie “Surabaya Bergerak” oleh Nendi, komunitas musik indie “Trendy Bangsat” oleh Effendi, Latihan Bersama Musik Band “Lentera United”, Forum Sastra Bersama Surabaya oleh Aming Aminoedhin, komunitas dance-street, latihan tari oleh Si Wrahat Nala, latihan melukis oleh Sanggar Palem, latihan burung berkicau oleh Komunitas Suramadu, Komunitas oi (orang Indonesia), maupun komunitas musik perkusi.

Wajah baru di tahun 2009 yang akan masuk lagi sedang dalam persiapan adalah kelompok tari Take d’Dance, Perguruan Pencaksilat “Perisai Diri”..

Karena pertunjukan seni tradisi ini memang sangat memerlukan perhatian khusus dalam upaya pelestarian dan pengembangannya. Karena sejak Januari 2008 tontonan tradisi tersebut rata-rata menyerap penonton minimal 100 orang, tidak benar bila ada pihak yang meng-issue-kan bahwa pertunjukan seni tradisi di THR hanya ditonton oleh tujuh orang. yaitu komunitas dari dalam THR sendiri. Padahal yang benar di antara penonton tersebut, mereka ada yang rumahnya di Mojokerto, Krian, dan Sidoarjo. Sementara itu para seniman juga kami harapkan mengadakan regenerasi, agar kelak tradisi kesenian mereka tetap dapat dipertahankan dan menjadi sumber inspirasi dalam proses kreatif.

Dengan demikian untuk mewujudkan THR Surabaya sebagai “kampoeng seni” yang mempunyai karakteristik tersendiri, memang memerlukan pendekatan budaya yang lebih konsisten, pemikiran yang positif dan upaya maksimal, terutama pendekatan nuansa ketradisian yang lebih kental. Sehingga dapat mewujudkan pusat-pusat kesenian di Surabaya yang bermacam ragamnya, di THR Surabaya lebih didominasi oleh nuansa ketradisiannya, di Balai Pemuda didominasi oleh nuansa kesenian showbiz, di Pantai Kenjeran didominasi oleh nuansa pantai, di kompleks masjid Ampel didominasi oleh nuansa religi Islami, di Taman Prestasi ada wisata perahu. Kalau pendekatan keragaman dan spesifikasi budaya seperti ini dapat terkondisi, maka hal itu, baru dapat dikatakan Surabaya memiliki kekayaan objek wisata yang beragam. Bukankah hal ini akan menjadi luar biasa. Dahsyat barangkali?



Senin, 23 Maret 2009

Profil THR Surabaya

THR adalah tempat hiburan rakyat yang mempunyai nilai sejarah cukup panjang, THR yang kini menjadi sebuah bangunan yang terdiri dari Hitech MAll berada di depan dan THR Culture City yang berada di belakang merupakan dua ruang usaha yang saling memberikan akses kepada publik untuk memenuhi kebutuhan. Letaknya THR yang strategis di wilayah tengah kota dan jauh dari jalan raya, sangat nyaman untuk anak-anak bermain tradisional sore hari seperti engkle, baksodor, dakon, slebur dan lainnya. Dengan kondisi lingkungan yang sudah didesain untuk Pusat Kesenian yang dilengkapi dengan seni pertunjukan dan pusat latih kesenian, mewujudkan THR Culture City menjadi tempat yang strategis sebagai pusat kesenian maupun sebagai tempat untuk menggelar aktifitas budaya, misalnya: resepsi temanten, malam kesenian, malam perpisahan dan tempat pertemuan atau rapat