AMITSEWU (= permisi =)
Menyimak lahirnya ide tentang info budaya “Gongseng”, berawal dari jagongan ngalor ngidul bersama cak Kris reporter RRI Surabaya di kantor UPTD THR. Ngrasani Suroboyo kuto metropolis tapi gak duwe pusat kesenian sing mampu mewadahi potensi kesenian arek-arek Suroboyo.
Ketika sebuah organizer mencari potensi karya seni , dengan gagapnya nara sumber mencari-cari siapa yang pantas, padahal Suroboyo iki gudange kreator, hanya karena karyanya tak pernah digelar alias sulit mendapat dukungan fasilitas, jadi karyanya tak terdeteksi, maka dianggap saja tidak ada, laopo angel-angel mikir, paling-paling debat kusir barek koncone dewe.
Jadi jawabannya, Surabaya perlu pusat kesenian, sementara Taman Hiburan Rakyat yang posisinya di belakang Hi-Tech Mall selama ini memang seperti orang tidur yang selalu minta makan. Apalagi kalau kita berbicara tentang investasi sebagai taman hiburan malah tidak ada apa-apanya. Ngapain tidak dibuat Kampung Seni saja, karena dengan adanya kampung seni maka azas kemanfaatannya dapat berubah, lebih efektif dan efisien, karena arek-arek dapat beraktifitas seni di Kampung Seni THR, maka dengan begitu potensi Suroboyo akan lebih mengedepan dan peran Pemerintah Kota Surabaya akan lebih nampak dukungannya terhadap kehidupan seni masyarat ( iki gak ngecap lho rek ! ).
Tetapi yang penting jangan lupa bahwa brand image ketradisiannya memang harus dipertahankan, bukan berarti fanatic lho…… karena yang non tradisi alias modern/kontemporer/seni alternatif juga merupakan bagian dari potensi Suroboyo, mulane ayo rek rame-rame berkesenian nang Kampung Seni THR Suroboyo.
Untuk menopang laju perkembangan Kampung Seni diperlukan sebuah media informasi public, meskipun tidak ada anggaran untuk itu, tetapi media ini penting agar keberadaan Kampung Seni akan lebih lekat dengan sebuah perubahan yang sedang diupayakan, dan yang penting dapat menjadi kajian dari waktu ke waktu dan sekaligus info budaya ini dapat dimanfaatkan untuk mengisi majalah dinding di sekolah-sekolah, agar para siswa juga dapat membuka cakrawala budayanya, maka lahirlah INFO BUDAYA “GONGSENG” , jarene sing nggawe : “ MENITI MASA DEPAN KAMPUNG SENI THR SUROBOYO “ ……… Tergantung yok opo sampeyan kabeh !!!!
Jangkrik ngerik golek upo, masiyo gak duwe duwik, tapi isok makaryo (opo jare donature, ha..ha..ha..ha) *cak Besut - kamituwo kampungseni thr*
OBROLANE WAK SEMAR
Gongseng kemrincing,
Sing nggawe Joko Sambang
Miline banyu bening
Nguripi wong sak kademangan
Jadi begitulah gongseng yang menjadi salah satu atribut penting bagi kebanyakan seni tradisi di Jawa Timur, opomaneh tari Ngremo, nek gak onok gongsenge, gak siiiip.
Kalau info budaya ini berjudul Gongseng, tidaklah mengherankan, karena secara tersirat, filosofi gongseng itu
Melalui gongseng inilah kehidupan seni itu digetarkan, supaya kesenian tersebut lebih semarak dan memasyarakat. Karena kesenian itu sangat penting untuk membangun badan dan jiwa bagi insane berbudaya, seetidaknya melalui info budaya “Gongseng” ini, informasi tentang kampung seni akan melengkapi kehidupan
SENI TRADISI
= MEDIA PEMBELAJARAN INSAN BERBUDAYA =
Menggairahkan kembali spirit kehidupan seni tradisi merupakan hal yang luar biasa dapat dilakukan, karena tradisi dapat diibaratkan seperti sesuatu yang penting tetapi kurang dipedulikan.
Keberadaan komunitas seni tradisi yang ada di kampung seni THR Surabaya sampai saat ini mereka dengan gigihnya berupaya agar seni tradisi mereka masih bisa bertahan, karena penikmat atau penonton yang masih gemar menyaksikan tontonan tradisi di kampung seni thr masih dapat dikatakan luar biasa, minimal paling sepi ada 75 – 100 penonton dari anak-anak – remaja hingga orang tua.
Seni tradisi pada umumnya berhubungan dengan faham nilai kehidupan sehari-hari, tidak secara langsung mengatur tentang sikap, prilaku maupun tata krama (unggah-ungguh/sopan santun).
Tradisi kesenian kita merupakan bagian dari seni tradisi yang melekat dengan kehidupan budaya tradisi masyarakat kita, jadi seni tradisi sangat penting untuk diteladani sebagai salah satu filter dari pengaruh budaya asing yang negative dan sekligus sebagai sumber kreatifitas dalam menyikapi perkembangan seni tradisi kedepan.
Sejak bulan Januari 2008 ketika kamituwo “Cak Besut” berupaya mencari solusi, para komunitas seni tradisi yang ada di kampung seni thr (Ludruk, wayang wong, ketoprak, campursari) bermusyawarah untuk bersama-sama berkomitmen membangun kembali keberadaan seni tradisi di kota Surabaya yang megah ini.
Anggota Srimulat yang berserakan telah dihimpun kembali untuk membuka lembaran baru dari kespesifikan Komedi Srimulat di Surabaya.
Saat ini mereka semuanya (kelompok Ludruk, Ketoprak, Wayang Wong, Srimulat, Campursari telah bersepakat untuk main setiap hari Jumat secara bergantian.
Dengan keberadaan program kegiatan yang teratur tersebut, diharapkan pengembangan dan peningkatan teknis akan mengalami perubahan makin baik.
Tontonan ini sangat pantas untuk ditonton/di apresiasi oleh para generasi remaja, para pelajar dan Mahasiswa sebagai bagian dari apresiasi seni dan budaya.
Bagi pelajar SMP-SMA/K muatan nilai yang ada pada seni tradisi dapat menjadi wacana seni dan budaya yang melengkapi proses pembelajaran seni dan budaya sesuai kurikulum ktsp di sekolah. (*Paman Jamino*)
Ludruk merupakan salah satu teater tradisional yang mewarnai Taman Hiburan Rakyat sejak tahun 1950-an. Karena pada waktu itu Sandiwara Ludruk masih marak main di kampung-kampung dan nobong (pentas keliling) di berbagai lapangan di Surabaya.
Ludruk yang pernah dimanfaatkan oleh Cak Durasim sebagai media pergerakan melawan penjajahan yang sangat terkenal pada kidungan berbunyi : Pegupon omahe doro, melok Nipon awak tambah sengsoro, menjadikan Ludruk makin populer dan mendewasakan
KEMESRAAN 4 MATA
Beberapa waktu yang lalu, hari Senin legi tanggal 19 Maret 2009 bertepatan dengan hari Nyepi, Paman Jamino dan Besut bermesaraan empat mata di halaman Kampung Seni THR Suroboyo, sambil meneguk kopi cangkir dan menghisap udut yang diberi kyai Jenut mereka melempar senyum kecil dan saling pandang .
Maaaaan…Jamino Man (besut menyapa Paman Jamino dengan nada panjang dan manja), nek isa tak leboni parikan, kedung barok kampunge rungkut man, sopo sing nggaruk bakal kesekut.
Iya iya sut, (paman Jamino menanggapi sapaan Besut), Wader pari singiden ndik galengan sut, mulane nek mlaku sing ati-ati cik gak kecemplung ndik jublangan.
Maaaaan….Jamino man, besut menyapa kembali dol tinuku obrolan. Nek tak pikir-pikir man, jaman sak iki jamane kemajuan, seni tradisi
Besuuuuut……. Paman jamino kembali menanggapi sapaan besut. Kok cike sut, seni tradisi dipulasara, rika gak kelingan pesene mbah citra, iku ngono saking pinter-pintere wong manca ngapusi bangsa kita, supaya wong
Oalah Man, ngono tah….., tapi onok maneh sing komentar nek gak isa ngetutna gayane wong mancanegara iku gak modern man.
Besuut….. pancane jamane wis salah kaprah, modern iku sakjane duduk niru gaya mancanegara, pancene modernisasi dimulai teka Barat barek Eropa, tapi sing bener iku gak niru gayane, tapi niru konsepe, konsep modernisasi iku lak nggolek alternative pengembangan supaya barang sing lawas tetep isa digawe dadi anyar maneh, lah supaya isa dadi anyar maneh kudu nganggo sarana proses kreatif, dadi modernisasi iku saktemene ngupaya yok opo carane proses kreatif iku isa mili, ibarate iline banyu gunung ngileni sawah-sawah.
Iya…. iya Man, aku sarujuk barek penemu rika, mulane ayok padha ndonga, muga-muga para kadang Nusantara iki, utamaane arek Suroboyo mangerteni kahanan lan apa sejatine sing kudu diayahi…….. tuku permen nang pasar keputran, kampung seni thr man, panggonane arek-arek berkesenian *makde*.
MENGAPA KAMPUNG SENI
Kampung seni bukanlah semata-mata diartikan sebagai perkampungan yang kemudian bebas untuk tempat tinggal, tetapi filosofi perkampungan artinya adalah sebuah areal yang digunakan sebagai tempat mangkalnya sekelompok manusia yang sedang menyelenggarakan aktifitas seni dan budaya.
Secara ideal kegiatan yang ada di kampung seni, antara lain : pelatihan seni, proses kreatif (proses penggarapan seni), pamer produk karya seni, pertunjukan seni.
Kampung seni dikondisikan sebagai salah satu bentuk fasilitasi yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk mengedepankan potensi berkesenian bagi masyarakat
Melalui kampung seni ini diharapkan muncul berbagai aktifitas kesenian yang positif dan mempunyai manfaat yang besar terhadap kehdupan generasi pada saat ini dan untuk menyapa hari depan.
Dengan mengedepankan nama kampung bukan berarti memberikan kesan kampungan yang negative, tetapi lebih dari itu pemaknaan kampung diartikan sebagai sebuah identitas spiritual kampungan yang bersahabat, gotongroyong, bekerjasama , sayek saekapraya, (ojok diartekno grudukan tawurane lho rek, tapi gemrudug bebarengan nyambut karyo, supoyo hasile bisa dimanfaatna kanggo bangsa lan Negara.
Nilai sebuah kampung dalam era globalisasi saat ini masih tetap diperlukan karena identitas kampung dapat menjadi karakteristik komunitas masyarakat yang mempunyai brand image dengan pendekatan social budaya yang sangat menakjubkan.
Masyarakat kampung dengan filosofinya tonggo tunggal gedeg bisa diibaratkan meskipun orang lain tetapi seperti sudara sendiri.
Secara moral kita memang perlu mengubah nilai-nilai yang negative dalam image kampungan tersebut menjadi sesuatu kekuatan yang luar biasa. *Cak Besut *

Tidak ada komentar:
Posting Komentar